Wednesday, June 3, 2009

Di jaLaN DaKwAh AkU MeNiKaH

Di Jalan Dakwah Aku Menikah
-dincavaliers91-

'Atribute' yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah "dai ilallah". Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, oleh sebab itulah Islam terkhabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan seharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku menunaikannya buat pertama kali, sebelum mengajak kepada orang lain.

Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntutan fikah Islam, pertimbangan lainnya ialah;

"Apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekadar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya sahaja?"

Contohnya, diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeza-beza jumlah bilangan usianya dan oleh sebab itu berbeza pula tingkat kemendesakannya untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun.

Mereka semua ini siap menikah, mampu menjalankan fungsinya dan peranan sebagai isteri dan ibu dalam rumah tangga. Anda adalah lelaki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan dengan realiti bahawa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikah Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apakah anda memilih dia sebagai calon isteri?

Ternyata anda memilih si A, karena dia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai, dan usianya masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! anda telah memilih calon isteri dengan benar kerana berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :

“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan inilah jawapan dakwah seorang Jabir ra, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir. “Benar katamu” jawab Nabi saw. Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Dia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan masih muda.

Namun dia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan. Nah, apabila semua lelaki muslim berfikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ?

Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fizikal tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? Mereka adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita solehah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka? Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ?

Kita boleh saja mengabaikan dan melupakan realiti ini. Jodoh ditangan Allah. Kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Kita memang bisa melupakan mereka dan tidak peduli dengan orang lain tetapi bukankah Islam tidak menganjurkan kita berperilaku demikian? Walaupun Nabi Muhammad saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda.

Walaupun Nabi Muhammad saw menyatakan agar Jabir beristeri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda. Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap lelaki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah. Sebagaimana pula fikiran yang tersirat di benak Sa’ad bin Rabi saat ia menerima saudara seiman, Abdul Rahman bin Auf.

“Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang diantara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai maka nikahilah dia” (Riwayat Bukhari)

Dia tidak memaksudkan apapun kecuali memikirkan keadaan saudaranya seiman yang belum lagi memiliki isteri. Keinginannya berbuat baiknya telah memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdul Rahman bin Auf menolak tawaran itu, dan dia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar. Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan projek besar dakwah Islam.

Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? Ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia?

Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya dalam konteks pernikahan oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”. Atau kita telah sepakat untuk tidak mahu melihat realiti seperti itu kerana ia bukanlah tanggung jawab kita ? Ia adalah urusan masing-masing.

Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil boleh kita gunakan untuk mengabsahkan fikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Boleh jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan menguris hati orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, mereka harus membaca dan menghadiri dengan perasaan yang sedih kerana tidak mempunyai jodoh sementara usia terus bertambah dan kepercayaan diri semakin berkurang. Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan seorang muslim.

SoLeHaH : Menjadi Atau Mencari??

SeLaMaT BeRaMaL
-dincavaliers91_

Mencari Solehah atau Menjadi Soleh? Saya sering membaca kisah kehidupan orang yang ingin menghabiskan zaman bujangnya, namun gagal meninggalkan kepompong kebujangannya itu oleh kerana dilanda masalah pilihan jodoh. Mereka mencuba sedaya upaya sehingga berhabis ratusan ringgit mengupah tok bomoh profesional berataraf antarabangsa namun jodoh tidak kunjung tiba.

Pada waktu itu mereka mula mempersoal hakikat takdir Allah. Saya bukanlah agen pencari jodoh untuk anda pada post kali ini, cuma ketika berada di tahun akhir pengajian di sini saya selalu dipaparkan dengan masalah kegagalan mencari jodoh yang meragut ketenangan jiwa saya. Memang perasaan cinta agak sukar untuk diterjemahkan. Ada orang suka itu dan ini, pendek kata ada pelbagai rasa dalam satu masakan yang tak mampu diolah dalam bahasa kamus.

Susahnya mencari jodoh! Jika ditanya, anda mahu mencari jodoh yang bagaimana? Tentunya akan dijawab:

“Dia yang paling baik dalam akhlak dan budinya”

“Pandai jaga hati”


Baik dari segi itu dan ini. Sebenarnya jika anda cuba bertanya kepada penari-penari kelab dangdut, mereka juga akan menjawab dengan jawapan yang sama. Tiada wanita yang suka dibelasah oleh suaminya setiap hari walaupun suaminya itu bukan bekas ahli tinju yang mahir. Sudah fitrah manusia mencari yang elok dan tidak busuk. Cuma bayangan kefahaman mereka disebalik makna perkataan ‘baik’ itu yang berbeza.

Bagi mereka, orang yang selalu tersenyum itu adalah antara orang yang terbaik walaupun berasal dari kumpulan peninggal solat yang terkenal. Adapun kebaikan itu sebenarnya hanya terzahir bila kita mentaati perintah Allah. Bagaimanapun setiap kita mendamba cinta dari seorang kekasih yang sangat sempurna sifat keinsanannya.

Sifat sempurna yang mampu menutup lubang-lubang kecacatan walaupun setengah meter. Banyak sekali mereka yang telah lanjut usia gagal untuk mendirikan rumah tangga kerana memikirkan perkara ini. Yang ada di hati mereka:

“Betulkah dia ini baik atau sekadar berlakon.”

“Ooh mungkin dia cuba bantu aku sebab hendak mengambil hati.”

“Emm pakai tudung dan cuba-cuba buat solehah agaknya itu.”

Akhirnya, semua sifat orang habis diselidiki tanpa memikirkan sifat diri sendiri. Kita yang tidak punya sifat dan perwatakan yang 'baik' cuba untuk menilik mereka yang 'paling baik' untuk dijadikan pasangan hidup. Seboleh mungkin kita mahukan seseorang yang punya sifat seperti malaikat. Sedangkan kita antara orang yang selalu bermuamalah dengan syaitan setiap hari untuk melakukan maksiat. Ini tidak adil! Bagaimana sifat syaitan dan malaikat boleh bersatu?

Akhirnya setiap detik berganti masa yang lama tidak juga mendapat pasangan yang secucuk. Lamunan untuk mendapat itu dan ini tidak terzahir di depan mata oleh kerana sentiasa melihat yang negatif pada orang lain. Jadilah yang soleh, anda akan mendapat yang solehah! Cuba selidiki diri sebelum mencari orang yang kita bayangkan sifatnya dibenak kita. Adakah sifat yang berada dibenak sendiri itu, wujud dalam diri kita?

Atau dalam erti kata yang lain, jika ingin mendapatkan seorang yang solehah, maka kita juga perlulah menjadi yang soleh. Kalau ingin mendapat jodoh yang soleh, kita perlulah solehah. Dari sini kita dapat fahami bahawa menjadi sesuatu itu lebih mudah dari mencari sesuatu. Kita setia mencari pasangan yang berperwatakan seorang yang soleh dan solehah, sepatutnya kita sendiri perlu punya perwatakan itu.

Janganlah anda menyalah orang lain jika pinangan anda ditolak. Siapakah yang ingin mendapat pasangan punya 'kakinya berbotol' dan peninggal setia solat fardhu? Sememangnya dijanjikan Allah setiap yang baik itu kepunyaan yang baik. Dan yang buruk itu akan mendapat yang buruk. Penzina yang setiap saat bergelumang dengan dosa tidak akan mampu untuk mendapat pasangan seorang lelaki yang soleh.

Ini adalah realiti. “Jangan cuba masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan puteri raja dalam keadaan pakaian anda compang camping”. Oleh itu jadilah yang terbaik untuk diri sendiri selain ingin menjadikan orang lain sebagai yang terbaik untuk diri kita. Belajarlah menjadi sifat orang yang kita ingini. Kelak kita sebenarnya yang akan dicari. Bukan kita yang mencari.

Tuesday, June 2, 2009

SiNgS SoNgS??

Muzik Bukan Sekadar Hiburan
-dincavaliers91-


Dunia hari ini punyai macam-macam masalah. Misalnya kelazatan dan kesenangan atau keseronokan dan keriangan adalah sesuatu yang mesti diburu dalam hidup. Itu sahajalah yang benar, yang betul, yang mesti dituju dan merupakan kebaikan.

Untuk kefahaman semua, fahaman seumpama ini ialah satu aliran yang diasaskan oleh Epicurea. Ada sesetengah manusia mengenal fahaman tidak senonoh ini sebagai cyrenaicism. Ideologi ini, menyangkakan hidup di dunia hanyalah untuk berlazat-lazat saja. Ideologi ini kemudian terbahagi pula kepada macam-macam jenis yang lain. Ada fahaman yang mementingkan keseronokan untuk diri semata-mata digelarkan dengan nama egoistic hedonism, yang jenis lain pula dinamakan universalistic hedonism iaitu keseronokan di peringkat universal dan ada juga falsafah hidup yang bergelar psychological hedonism iaitu manusia ini konon-kononnya buat apa sahaja pun atas keinginan untuk mencapai keseronokan dan kelazatan.

Saya tidak anti sebarang muzik. Muzik yang tidak kembali kepada Pencipta kita dan sebaliknya meresahkan dan menjauhkan daripada kenyataanlah yang saya anti. Untuk pembaca muslim, saya perlu ingatkan hanya takwa sajalah pusat pegangan kita. Berharaplah sampai mati supaya kita duduk dalam kerangka ini. Allah menyebut dalam surah Ali Imraan ayat 112 tentang dimensi sebenar hal kesenian dan kebudayaan ini: Mereka akan ditimpa kehinaan, kecuali berpegang teguh pada ajaran agama Allah iaitu hablumminallah dan juga nilai-nilai kemanusiaan iaitu yang disebutkan sebagai hablumminannas. Soal muzik adalah soal budaya. Muzik bukan soal hiburan semata-mata seperti yang difahami oleh anak muda kita sekarang ini. Ia lebih dari itu. Oleh kerana muzik telah ada pada bangsa-bangsa bukan Arab juga, maka adakah kerana Islam datang kepada mereka, muzik itu harus dibasmi?

Dalam Islam, muzik ini untuk membebaskan kita dari dunia kebendaan, supaya dapat bebas dari hal-hal sementara yang ada di dunia ini dan menginsafkan diri kita justeru membawa kepada hal-hal yang lebih abadi. Sayang sekali segelintir anak muda kita, mengejar muzik yang kosong. Malah mereka itu menyangka muzik semata-mata hiburan dan keseronokan. Mereka tidak nampak muzik itu rapat dengan jiwa, dan jiwa yang tenang membawa kepada Tuhan. Muzik yang mereka dengar itu malah tidak dapat membawa kepada Tuhan.

Anak-anak muda di luar yang gila benar mahu menjadi bintang dan idola itu bukan sangat reti mengenai perkara ini. Anda tentu terkesan yang mereka hanya nampak kemewahan dan kemasyhuran menanti. Mereka tidak tahu sepicing pun mengenai muzik merawat mental juga emosi. Anda harus lebih tahu daripada mereka yang irama muzik sangat berpengaruh menumbuhkan emosi apatah lagi keadaan mental. Muzik tentu sahaja dapat menjadi terapi kejiwaan.

Tidakkah mereka tahu yang muzik menjana kelenjar pineal mengeluarkan hormon melatonin. Inilah jenis hormon yang berfungsi untuk menenangkan manusia. Muzik seumpama rock yang iramanya berfrekuensi lebih dari 12 hz akan hanya mendorong pendengar menjadi agresif, radang, baran dan merosakkan kesihatan dengan melajukan detak jantung. Sedang irama ney misalnya (sejenis serunai orang sufi: sila baca novel Advencer Si Peniup Ney) itu frekuensinya seputar 8 ke 10 hz, justeru temponya yang tidak pantas menjadikan fikiran tenang dan memberi santai di jiwa. Tidak hairan juga kalau irama yang berfrekuensi 4 hingga 8 hz, itu membuatkan orang lagi cepat tidur.

Anda harus lebih tahu daripada anak-anak muda yang mahu sangat menjadi bintang dan idola di luar itu. Ini ada benarnya hinggakan satu masa dahulu terdapat pasukan muzik di rumah sakit Sultan Beyazid kedua di Edirne wilayah Turki Othmaniyyah. Bukankah mereka menggunakan haruman dan irama sufi sebagai terapi rawatan untuk pesakit. Anda yang belum pernah mendengar hal ini tentu sekali kini menjadi lebih berpengetahuan bahawa Islam menawarkan muzik lebih daripada untuk keseronokan. Lama sebelum perang Akkerman, dalam tahun-tahun 1480an ketika bangsa-bangsa barat masih jahil dan belum mengenal gitar apatah lagi organ atau sains dan seni muzik, Sultan Beyazid II telah menubuhkan sebuah kompleks kesihatan di Edirne, menggunakan bunyian air, muzik dan wangian daripada bunga-bungaan untuk merawat orang-orang yang tidak sihat.

Justeru muzik dan menjadi pemuzik itu satu kerja mulia yang memberi perkhidmatan untuk kemanusiaan tetapi muzik hari ini dan segala macam program mencari bakat baru itu apa sumbangannya kepada kemanusiaan? Tetapi masa kini mereka terlalak-lalak mengaku bahawa kami adalah penyumbang kepada kemanusiaan.
Science Fails to Explain God


At an educational institution: Professing to be wise, they became fools ....

"LET ME EXPLAIN THE problem science has with God."

The atheist professor of philosophy pauses before his class and then asks one of his new students to stand.

"You're a Muslim, aren't you, son?"
"Yes, sir."
"So you believe in God?"
"Absolutely."
"Is God good?"
"Sure! God's good."
"Is God all-powerful? Can God do anything?"
"Yes."

The professor grins knowingly and considers for a moment.

"Here's one for you. Let's say there's a sick person over here and you can cure him. You can do it. Would you help them? Would you try?"
"Yes sir, I would."
"So you're good...!"
"I wouldn't say that."
"Why not say that? You would help a sick and maimed person if you could in fact most of us would if we could... God doesn't."

[No answer]

"He doesn't, does he? My brother was a Muslim who died of cancer even though he prayed to God to heal him. How is this God good? Hmmm? Can you answer that one?"

[No answer]

The elderly man is sympathetic.
"No, you can't, can you?" He takes a sip of water from a glass on his desk to give the student time to relax. In philosophy, you have to go easy with the new ones. Let's start again, young fella."
"Is God good?"
"Er... Yes."
"Is Satan good?"
"No."
"Where does Satan come from?" The student falters.
"From... God..."
"That's right. God made Satan, didn't he?"

The elderly man runs his bony fingers through his thinning hair and turns to the smirking, student audience.

"I think we're going to have a lot of fun this semester, ladies and gentlemen."

He turns back to the Muslim.

"Tell me, son. Is there evil in this world?"
"Yes, sir."
"Evil's everywhere, isn't it? Did God make everything?"
"Yes."
"Who created evil?"
[No answer]
"Is there sickness in this world? Immorality? Hatred? Ugliness? All the terrible things - do they exist in this world?"

The student squirms on his feet.

"Yes."
"Who created them? "
[No answer]

The professor suddenly shouts at his student.

"WHO CREATED THEM? TELL ME, PLEASE!"

The professor closes in for the kill and climbs into the Muslim's face. In a still small voice:
"God created all evil, didn't He, son?"
[No answer]

The student tries to hold the steady, experienced gaze and fails.Suddenly the lecturer breaks away to pace the front of the classroom like an aging panther.The class is mesmerised.

"Tell me," he continues,"How is it that this God is good if He created all evil throughout all time?"

The professor swishes his arms around to encompass the wickedness of the world.

"All the hatred, the brutality, all the pain, all the torture,all the death and ugliness and all the suffering created by this good God is all over the world, isn't it, young man?"
[No answer]
"Don't you see it all over the place? Huh?"

Pause.

"Don't you?"
The professor leans into the student's face again and whispers, Is God good?"
[No answer]
"Do you believe in God, son?"

The student's voice betrays him and cracks.

"Yes, professor. I do."

The old man shakes his head sadly.

"Science says you have five sensesyou use to identify and observe the world around you. You have never seen God, Have you?
"No, sir. I've never seen Him."
"Then tell us if you've ever heard your God?"
"No, sir. I have not."
"Have you ever felt your God, tasted your God or smelt your God...in fact,do you have any sensory perception of your God whatsoever?"
[No answer]
"Answer me, please."
"No, sir, I'm afraid I haven't."
"You're AFRAID... you haven't?"
"No, sir."
"Yet you still believe in him?"
"...yes..."
"That takes FAITH!" The professor smiles sagely at the underling.According to the rules of empirical, testable, demonstrable protocol,science says your God doesn't exist. What do you say to that, son? Where is your God now?"
[The student doesn't answer]
"Sit down, please."

The Muslim sits...Defeated. Another Muslim raises his hand.

"Professor, may I address the class?"

The professor turns and smiles.
"Ah, another Muslim in the vanguard!Come,come, young man. Speak some proper wisdom to the gathering."

The Muslim looks around the room.



"Some interesting points you are making, sir. Now I've got a question for you.
"Is there such thing as heat?"
"Yes," the professor replies.
"There's heat."
"Is there such a thing as cold?"
"Yes, son, there's cold too."
"No, sir, there isn't."

The professor's grin freezes. The room suddenly goes very cold. The second Muslim continues.

"You can have lots of heat, even more heat, super-heat, mega-heat,white heat, a little heat or no heat but we don't have anything called 'cold'.We can hit 458 degrees below zero, which is no heat, but we can't go any further after that. There is no such thing as cold,otherwise we would be able to go colder than 458 - - You see, sir, cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold."
"Heat we can measure in thermal units because heat is energy.Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it."

Silence. A pin drops somewhere in the classroom.

"Is there such a thing as darkness, professor?"
"That's a dumb question, son. What is night if it isn't darkness?What are you getting at...?
"So you say there is such a thing as darkness?"
"Yes..."
"You're wrong again, sir. Darkness is not something, it is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light but if you have no light constantly you have nothing and it's called darkness, isn't it? That's the meaning we use to define the word. In reality, Darkness isn't. If it were, you would be able to make darkness darker and give me a jar of it. Can you...give me a jar of darker darkness,professor?"

Despite himself, the professor smiles at the young effrontery before him.This will indeed be a good semester.

"Would you mind telling us what your point is, young man?"
"Yes, professor. My point is, your philosophical premise is flawed to start with and so your conclusion must be in error...."
"The professor goes toxic. "Flawed...? How dare you...!"
"Sir, may I explain what I mean?"

The class is all ears.

"Explain... oh, explain..."


The professor makes an admirable effort to regain control. Suddenly he is affability itself.He waves his hand to silence the class, for the student to continue.

"You are working on the premise of duality," the Muslim explains."That for example there is life and then there's death; a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science cannot even explain a thought.It uses electricity and magnetism but has never seen, much less fullyunderstood them. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life, merely the absence of it."

The young man holds up a newspaper he takes from the desk of a neighbour who has been reading it.

"Here is one of the most disgusting tabloids this country hosts,professor. Is there such a thing as immorality?"
"Of course there is, now look..."
"Wrong again, sir. You see, immorality is merely the absence of morality. Is there such thing as injustice? No. Injustice is the absence of justice. Is there such a thing as evil?"

The Muslim pauses.

"Isn't evil the absence of good?"

The professor's face has turned an alarming colour. He is so angry he is temporarily speechless.

The Muslim continues.

"If there is evil in the world, professor, and we all agree there is, then God, if he exists, must be accomplishing a work through the agency of evil. What is that work, God is
accomplishing? Islam tells us it is to see if each one of us will,choose good over evil."

The professor bridles.

"As a philosophical scientist, I don't vie this matter as having anything to do with any choice; as a realist, I absolutely do not recognize the concept of God or any other theological factor as being part of the world equation because God is not observable."
"I would have thought that the absence of God's moral code in this world is probably one of the most observable phenomena going," the Muslim replies.
"Newspapers make billions of dollars reporting it every week! Tell me, professor. Do you teach your students that they evolvedfrom a monkey?"
"If you are referring to the natural evolutionary process,youngman, yes,of course I do."
"Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?"

The professor makes a sucking sound with his teeth and gives his student a silent, stony stare.

"Professor. Since no-one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavour,are you not teaching your opinion, sir? Are you now not a scientist,but a priest?"
"I will overlook your impudence in the light of our philosophical discussion. Now, have you quite finished?" the professor hisses.
"So you don't accept God's moral code to do what is righteous?"
"I believe in what is - that's science!"
"Ahh! SCIENCE!" the student's face splits into a grin.
"Sir, you rightly state that science is the study of observed phenomena. Science too is a premise which is flawed..."
"SCIENCE IS FLAWED..?" the professor splutters.

The class is in uproar.The Muslim remains standing until the commotion has subsided.

"To continue the point you were making earlier to the other student, may I give you an example of what I mean?"

The professor wisely keeps silent. The Muslim looks around the room.

"Is there anyone in the class who has ever seen air, Oxygen,molecules, atoms, the professor's brain?"

The class breaks out in laughter. The Muslim points towards his elderly, crumbling tutor.

"Is there anyone here who has ever heard the professor's brain...felt the professor's brain, touched or smelt the professor's brain?"

No one appears to have done so. The Muslim shakes his head sadly.

"It appears no-one here has had any sensory perception of the professor's brain whatsoever. Well, according to the rules of empirical, stable,demonstrable protocol, science, I DECLARE that the professor has no brain! As we can't feel it, we can't touch it, we can't ever smell it using our sense.

NOW IT IS EVERYONE'S CHANCE TO LEARN MORE ABOUT ISLAM, ABOUT GOD, ABOUT THE PURPOSE OF EXISTENCE OF CREATION AND LIFE, ABOUT THE MESSENGERS OF GOD, & ABOUT HIS HOLY BOOKS, ESPECIALLY THE HOLY QUR'AAN. THEN IT IS YOUR CHOICE TO BECOME A MUSLIM, OR NOT.

Allah says in the His Holy Book:
There is no compulsion in religion; truly the right way has become clearly distinct from error; And he who rejects false deities and believes in Allaah(The God) has grasped a firm handhold which will never break. and Allaah is ALL-Hearing, All-Knowing 2:256

Allah is the Protecting Guardian of those who believe. He brings them out of the darkness into the light; As for those who disbelieve,their guardians are false deities. They bring them out of light into darkness...(257)"
The Muslim sits... Because that is what a chair is for!!!
Bila Usia Makin Meningkat

Masa terus berjalan, sedar atau tidak, suka atau tidak, usia kita juga kian bertambah dari hari ke hari. Inilah ketentuan yang tertulis untuk kita sebagai makhluk yang dicipta olehNya. Bermula kita dari setitik mani yang bersatu dengan ovum, kemudian terhasillah segumpal darah, di balut tulang dan daging kemudian ditiup roh lalu lahirlah kita menjadi seorang bayi. Bermula kita meniarap, kemudian kita merangkak, bertatih kemudian kita berlari. Subhanallah, indahnya ciptaan Ilahi. Kita juga dibekalkan pula dengan akal dan naluri, ada perasaan, ada nafsu, ada cita-cita, ada kehendak. Maha suci Allah yang Maha Pencipta.

Ingatlah lima perkara sebelum datang lima perkara. Hidup sebelum mati. Dalam usia sedang menganjak, meningkat dari tahun ke tahun, persoalan yang sering bermain di minda saya adalah, "selama aku hidup, apa yang telah aku lakukan???"

Aduh, kadang-kadang, ada masanya saya menangisi nasib diri, betapa selama ini saya mensia-siakan anugerah jasad dan nyawa yang Allah telah berikan kepada saya. Astagfirullahalazim. Jika sepuluh tahun yang lepas, saya baru selesai menduduki SPM, alhamdulillah, saya mendapat keputusan semua A. Dan Alhamdulillah, selama saya bergelar pelajar MRSM, saya selalu utamakan solat berjemaah di surau, selalu melakukan solat sunat dan sering membaca quran hinggakan saya berkemampuan menghafal Surah Yassin dan Ma'thurat pada waktu itu.
Pergaulan antara lelaki dan wanita juga terbatas, saya terlindung dari maksiat, alhamdulillah. Dan jika saya mati waktu itu, saya mungkin mati dalam keadaan yang selamat dari dosa dan noda kerana saya masih lagi seorang remaja yang baru beberapa tahun akil baligh. Saya suci, saya murni, tapi kenapa Allah tidak mengambil nyawa saya ketika itu? (Rahsia Allah, hanya Dia Yang Mengetahui)

Tahun demi tahun, saya meneruskan kehidupan di alam baru pula, alam bergelar pelajar universiti dan sekarang, alam pekerjaan. Astaghfirullah.. Jalan yang terpaksa di lalui rupanya kian lama kian sukar. Onak dan duri menanti di sepanjang perjalanan. Ada masanya saya kuat menempuh halangan dan ada masanya saya tewas. Titik hitam mula berkumpul dalam diri ini, setitik demi setitik, hingga lama kelamaan menjadi banyak. Iman pula sentiasa di paras yang berbeza-beza, ada pasang surutnya yang tersendiri. Saya kian banyak melakukan dosa. Ampunkanlah aku wahai Tuhan.. Apa gunanya aku hidup, andai kehidupan ini semata-mata untuk menambah bebanan dosa? Dan kenapa Tuhan izinkan aku hidup sedangkan timbangan dosa ku kian lama kian berat?

Astagfirullahalazim.. Setiap apa yang Allah ciptakan, biarpun sebesar zarah, pasti ada hikmahnya, pasti ada sebabnya. Allah Maha Bijaksana Lagi Maha Mengetahui. Ajal maut semuanya di tangan Dia dan hanya Dia yang tahu, bila tiba masanya Izrail harus datang menjemput. Dia yang Maha Berkuasa. Pernahkah kita terfikir, kenapa kita masih hidup hari ini? Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar..Bersyukurlah kerana sehingga hari ini, kita masih lagi dipanjangkan umur, tempoh pinjaman jasad dan nyawa ini masih lagi dipanjangkan.

Terfikirkah kita, kita masih hidup hari ini kerana Allah ingin memberi peluang kepada kita untuk menyuci diri dan menghapuskan dosa semalam? Kita masih hidup agar kita dapat memohon maaf kepada mereka yang pernah kita lukai hatinya, kita masih hidup agar kita dapat melunaskan hutang yang belum terbayar.

Terfikirkah kita, kita masih hidup hari ini kerana masih ada yang memerlukan kita, memimpin tangan mereka, menyapu air mata mereka, meminjamkan bahu dan telinga untuk mereka di kala mereka sedang berduka lara.

Terfikirkah kita, kita masih hidup hari ini kerana masih ada tugas yang belum terlaksana sempurna. Masih banyak yang belum kita lakukan. Amalan dan bekalan untuk di bawa ke akhirat yang kekal abadi masih tidak mencukupi.
Aduh, rupanya perjuangan kita di alam kehidupan ini masih belum selesai. Masih banyak yang harus kita persiapkan. Bila usia meningkat, ramai yang risau, kecantikan dan keremajaan bakal hilang, lalu sibuklah mereka menyuntik sana sini, makan vitamin itu dan ini. Malangnya ramai yang lupa, bila mati, jasad di timbus tanah, ulat dan cacing datang menggigit, semuanya akan reput, daging dan kulit di makan tanah. Kita kembali menjadi tanah. Apa gunanya cantik?
Bila usia meningkat, ramai yang risau, harta dan kekayaan yang dikumpul masih ditakuk lama, wang simpanan masih tidak mencukupi. Malangnya ramai pula yang lupa untuk mempersiapkan diri dan memperbanyakkan amalan dan mengumpul bekalan untuk di bawa ke sana.
Aduhai.. Saya bagaimana pula? usia saya juga kian meningkat, esok atau lusa mungkin tiba masa saya di jemput kembali pulang ke alam barzakh.. Ya Allah, ampunkanlah segala dosaku, tunjukilah aku jalanMu yang lurus, selamatkanlah dan bahagiakanlah aku serta seluruh muslimin dan muslimat, dunia dan akhirat. Amin..